Keterampilan Berpikir Siswa




Keterampilan Berpikir Siswa
1.      Pengertian
Pengertian keterampilan menurut Anwar Jasmin (1996: 42) adalah kemampuan fisik dan mental yang secara relatif mudah di praktekan secara terpisah. Keterampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat saraf dan otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis, mengetik, dan sebagainya.
Proses berpikir kompleks dikelompokkan menjadi 4 yaitu pemecahan masalah, pengambilan keputusan berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Dalam mengembangkan berpikir kreatif diperlukan latihan-latihan dan mempertimbangkan kondisi khas peserta didik.
Berpikir kreatif menurut Presseien (1985:45) adalah menggunakan proses berpikir dasar, untuk menemukan novel, estetik, produk, ide yang membangun yang berhubungan dengan persepsi seperti halnya  konsep.
 Menurut Susianna (2003), perkembangan optimal dari kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam lingkungan pembelajaran berhubungan erat dengan cara guru mengajar. Pola pengajaran dan interaksi yang lebih memberi kepercayaan, penghargaan dan dorongan terhadap kemampuan peserta didik untuk mencari pemecahan masalah dari setiap kasus pengajaran yang dihadapi akan lebih membangkitkan keberanian untuk mencoba, mengemukakan dan mengkaji gagasan atau cara-cara baru yang merupakan benih terciptanya kemampuan kreativitas. Dalam hal ini peran utama pendidik antara lain adalah mengembangkan sikap dan kemampuan peserta didik yang dapat membantu untuk menghadapi persoalan-persoalan dimasa yang akan datang secara kreatif dan inovatif.

2.      Ciri-Ciri Kemampuan Berpikir Kreatif
Menurut Munandar USC (1992: 88-92) terdapat ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif diantaranya:
a.       Keterampilan Berpikir Lancar
§ Definisi : Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau pertanyaan.
§ Prilaku siswa : Lancar mengungkapkan gagasan-gagasanya.
b.      Keterampilan Berpikir Luwes (Fleksibel)
§ Definisi : Menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervareasi.
§ Prilaku Siswa : Menerapkan suatu   konsep atau asas dengan cara yang berbeda-beda.  
c.        Keterampilan Berpikir Orisinil
§ Definisi : Mampu melahirkan ungkapan yang baru dan unik
§ Prilaku Siswa: setelah mermbaca atau mendengar gagasan-gagasan, bekerja untuk menemukan penyelesaian yang baru.
d.      Keterampilan Memperinci (Mengelaborasi)
§ Definisi : Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk.
§ Prilaku Siswa : menambahkan garis-garis, warna-warna, dan detil-detil (bagian-bagian) terhadap gambarannya sendiri atau gambar orang lain.
e.       Keterampilan Menilai (mengevaluasi)
§ Definisi : Tidak hanya mencetuskan gagasan, tetapi juga melaksanakannya.
§ Prilaku Siswa : Memberi pertimbangan atas dasar sudut pandangannya sendiri.
3.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Berpikir Siswa
Berpikir kreatif tumbuh subur apabila didukung oleh faktor personal dan situasional diantaranya adalah:
a.       Kemampuan Kognitif
Ternasuk kemampuan diatas rata-rata dan fleksibilitas kognitif, cara ini diperoleh dengan mengoptimalkan potensi otak.
b.      Sikap yang Terbuka
Orang kreatif mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan eksternal, saat sifat terbuka dimiliki maka banyak informasi dan kesempatan yang dapat kita manfaatkan untuk menjadi kreatif.
c.       Sifat yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri
Orang kreatif tidak senang “digiring” ingin menampilkan diri semampu dan semaunya (Nggermanto 2002: 73)
Keterampilan berpikir kreatif adalah keterampilan kognitif untuk memunculkan dan mengembangkan gagasan baru, ide baru sebagai pengembangan dari ide yang telah lahir sebelumnya dan keterampilan untuk memecahkan masalah secara divergen (dari berbagai sudut pandang). Dalam penelitian ini keterampilan berfikir kreatif yang diukur mencakup empat aspek (William dalam Munandar, 1987: 88-91) yaitu: (1) fluency (berpikir lancar), (2) flexibility (berpikir luwes), (3) originality (orisinalitas berpikir), (4) elaboration (penguraian). Untuk mengukur keterampilan berpikir kreatif ini digunakan tes uraian untuk memperoleh data keterampilan berpikir kreatif sebelum dan sesudah pembelajaran. Secara keseluruhan, aspek dan indikator keterampilan berpikir kreatif yang diukur dalam penelitian ini ditunjukkan pada tabel berikut:




Aspek KBK
Indikator Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa
Fluency
a. Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan;
b.Lancar mengungkapkan gagasan-gagasannya;
c. Dapat dengan cepat melihat kesalahan dan kelemahan dari suatu objek atau situasi.
Flexibility
a. Memberikan bermacam-macam penafsiran terhadap suatu gambar, cerita, atau masalah;
b.Jika diberi suatu masalah biasanya memikirkan bermacam cara yang berbeda untuk menyelesaikannya;
c. Menggolongkan hal-hal menurut pembagian (kategori) yang berbeda.
Originality
Setelah membaca atau mendengar gagasan-gagasan, bekerja untuk menyelesaikan yang baru
Elaboration
a. Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan masalahdengan melakukan langkah langkah yang terperinci
b.Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain;
c. Mencoba/menguji detail-detail untuk melihat arah yang akan ditempuh;

Pengertian Persepsi



Pengertian Persepsi
Persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Mangkunegara (dalam Arindita, 2002: 21) berpendapat bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap.
Walgito (dalam Hamka, 2002 : 16) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.
Leavitt (dalam Rosyadi, 2001: 12) membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebut.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain sebagainya, dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga.
Dari definisi persepsi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi merupakan suatu proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi dan pengalaman-pengalaman yang ada dan kemudian menafsirkannya untuk menciptakan keseluruhan gambaran yang berarti. Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor personal dan struktural. Faktor-faktor personal antara lain pengalaman, proses belajar, kebutuhan, motif dan pengetahuan terhadap obyek psikologis. Faktor-faktor struktural meliputi lingkungan keadaan sosial, hukum yang berlaku, nilai-nilai dalam masyarakat.
Walgito (dalam Hamka, 2002: 16) menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:
1)    Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman atau proses fisik, merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia.
2) Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat indera) melalui saraf-saraf sensoris.
3)    Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik, merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptor.
4)    Tahap ke empat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan dan perilaku.
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan, bahwa proses persepsi melalui tiga tahap, yaitu:
1)    Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
2)    Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
3)    Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.
Menurut Newcomb (dalam Arindita, 2003:4), ada beberapa sifat yang menyertai proses persepsi, yaitu:
1)    Konstansi (menetap): Dimana individu mempersepsikan seseorang sebagai orang itu sendiri walaupun perilaku yang ditampilkan berbeda-beda.
2)    Selektif: persepsi dipengaruhi oleh keadaan psikologis si perseptor. Dalam arti bahwa banyaknya informasi dalam waktu yang bersamaan dan keterbatasan kemampuan perseptor dalam mengelola dan menyerap informasi tersebut, sehingga hanya informasi tertentu saja yang diterima dan diserap.
3)    Proses organisasi yang selektif: beberapa kumpulan informasi yang sama dapat disusun ke dalam pola-pola menurut cara yang berbeda-beda.
   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi ads dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dlam diri individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik.
Meskipun individu-individu memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi. Faktor-faktor ini dari :
1) Pelaku persepsi (perceiver)
2) Objek atau yang dipersepsikan
3) Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan
Ada beberapa jenis persepsi yaitu :
  1. Persepsi visual adalah Persepsi yang visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari.
  2. Persepsi auditori adalah Persepsi yang auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.
  3. Persepsi perabaan adalah Persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
  4. Persepsi penciuman adalahPersepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.
  5. Persepsi pengecapan adalah Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.
Proses persepsi dimulai dengan sebuah objek di dunia nyata, disebut stimulus atau objek distal distal. Melalui cahaya, suara atau proses lain fisik, objek merangsang organ-organ sensorik tubuh. Organ-organ indera mengubah energi masukan ke dalam saraf aktivitas proses yang disebut transduksi. Pola baku aktivitas saraf disebut stimulus proksimal Sinyal-sinyal saraf dikirim ke otak dan diproses. rekreasi mental akibat dari stimulus distal persepsi tersebut. Persepsi kadang-kadang digambarkan sebagai proses membangun representasi mental dari rangsangan distal menggunakan informasi yang tersedia dalam rangsangan proksimal. 

Perilaku Asertif



 

Perilaku Asertif

Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif. Menurut Rini (2001) mengemukakan asertivitas adalah perilaku yang menampakkan kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Seseorang dikatakan mampu bersikap asertif jika dirinya mampu bersikap tulus dan jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan pada pihak lain sehingga tidak merugikan atau mengancam integritas pihak lain.
Individu yang berperilaku asertif berarti mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan secara jujur dan relatif mudah. Orang asertif mengarah pada tujuan, jujur, terbuka, penuh percaya diri. Perilaku asertif terkandung perilaku kesanggupan bermasyarakat, berempati dan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal. Individu yang asertivitasnya tinggi sadar akan kelebihan-kelebihan yang dimiliki dan memandang kelebihan-kelebihan tersebut lebih penting dari pada kelemahannya, begitu pula sebaliknya. Asertivitas seseorang dapat ditunjukkan dengan mengkomunikasikan kebutuhan, keinginan, perasaan atau opini kepada orang lain dengan cara langsung dan jujur tanpa bermaksud menyakiti perasaan siapapun. Pada umumnya orang yang asertif dalam kehidupannya sehari-hari, mampu mengenal dirinya sendiri dengan baik, sehingga mampu menentukan pilihan keinginan dan tujuan hidupnya tanpa harus mempengaruhi orang lain.
Asertif adalah sebuah tindakan atau tingkah laku dalam berinteraksi dengan orang lain secara terbuka, jujur, penuh pertimbangan, percaya diri dan tegas. Tidak hanya menyangkut ekspresi pikiran dan perasaan yang positif saja, tetapi juga untuk hal yang negatif. Dengan kata lain, asertif itu adalah sikap dan perilaku seseorang ketika berhubungan dengan orang lain yang dilakukan dengan jujur, tegas, penuh pertimbangan dan percaya diri. Termasuk didalamnya adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan, baik yang positif maupun yang negatif.
Dalam berinteraksi dengan orang lain, kita sering mengutarakan pendapat dan keinginan masing-masing, contoh ketika kita sedang ngobrol dengan teman-teman kita. Terkadang kita setuju dengan materi obrolan tersebut, tapi tak jarang ktia berbeda pendapat dengan mereka. Dalam berperilaku asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat, dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan, menyangkali hak-hak orang lain ataupun merugikan pihak lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku asertif adalah perilaku untuk mengemukakan pikiran, perasaan serta mengekspresikan emosi dan ide secara layak kepada orang lain dengan cara yang sesuai tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian perilaku asertif adalah tingkah laku interpersonal yang mengungkap emosi secara terbuka, jujur, tegas dam langsung pada tujuan sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi dan dilakukan dengan penuh keyakinan diri dan sopan (Krisdarto Atmosoeprapto, 2004 : 166).
Perbedaan Antara Perilaku Asertif, Agresif, Dan Non Asertif (Pasif)
Menurut Steven strein and Howard book (dalam Trinanda rainy dan Yudhi murtanto, 2004: 91) Perilaku asertif, sangat  berbeda dengan perilaku agresif dan perilaku pasif, hanya saja perilaku asertif berada pada posisi di antara dua perilaku ekstrim, yakni  antara perilaku agresif dan perilaku non asertif. Inti dari perilaku asertif adalah berkomunikasi secara langsung dan jujur. Perilaku agresif adalah menguasai atau mendominasi dan inti perilaku pasif adalah menghindari konflik yang juga berarti mengalahkan keinginan diri untuk kepentingan orang lain.
Ketika orang-orang agresif mempertahankan hak-haknya, mereka akan melakukan dengan “seenaknya sendiri”, bahkan sampai mempermalukan orang lain. Untuk orang-orang dengan perilaku agresif, yang penting baginya adalah menang dalam segala hal atau kesempatan.
Lebih jauh, perilaku agresif akan menimbulkan reaksi agresif pula dari orang lain yang menerima perlakuan tersebut. Setiap orang akan marah bila diperlakukan kasar. Walaupun, orang-orang dengan perilaku agresif akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi mereka sulit menerima respek/penghargaan diri dari orang lain atau lingkungannya. Konsekuensi sosial lain yang diperoleh orang agresif juga hampir sama dengan orang pasif, yaitu mereka tidak mampu mengadakan hubungan antar pribadi yang hangat, tulus dan setara. Hubungan yang biasanya mereka bina cenderung berwarna “atasan-bawahan” atau “penguasa-yang dikuasai”. Mereka akan banyak menemui konflik-konflik terbuka yang bahkan dapat bersifat destruktif.
Secara psikologis, mereka juga bukan orang yang dapat memiliki konsep diri yang positif dan merasa nyaman akan kondisi mereka. Mereka selalu tidak puas akan apa yang mereka peroleh dan akhirnya sering merasa tidak puas terhadap diri sendiri. Orang-orang agresif sering memandang orang lain tidak semampu dirinya, sehingga kegagalan yang terjadi sering dianggap lebih disebabkan orang lain. Kondisi psikologis orang-orang yang cenderung emosional ini dapat berakibat buruk pada kesehatan mereka. Mereka cenderung susah tidur, tekanan darah tinggi, syaraf yang sering berada pada kondisi tegang. Tetapi sebenarnya, pihak yang paling banyak menerima masalah ini bila berinteraksi dengan orang-orang agresif  adalah orang lain. Kebanyakan dari mereka merasa harus bersitegang terus dengan orang-orang agresif bila harus mempertahankan hak mereka.
Sedangkan perilaku pasif memiliki karakteristik yaitu menampilkan perilaku untuk menghindari penolakan dari orang lain. Mereka takut ditolak. Walaupun pada akhirnya orang-orang demikian tetap sulit diterima dalam suatu lingkungan sosial. Orang-orang non asertif biasanya juga mengalami hambatan dalam membina hubungan antar pribadi yang hangat dan setara. Kebutuhan-kebutuhan yang tidak diekspresikan menimbulkan ketidakpercayaan di antara dua orang yang saling mencintai.
Konsekuensi praktis yang dialami orang-orang pasif antara lain: mereka banyak menumpuk barang yang tidak diperlukan hanya karena mereka tidak bisa menghindar dari penjual yang merayunya, mereka meminjamkan barang yang tidak ingin mereka pinjamkan dan setelah itu tidak berani untuk memintanya kembali, mereka pergi ke pesta padahal mereka tidak ingin datang, melakukan percakapan lama dengan orang-orang yang tidak mereka inginkan, bahkan mereka juga menikah dengan orang yang bukan pilihannya melainkan pilihan orang lain. Pendek kata, orang-orang non asertif “membayar lebih” untuk kehidupan yang tidak ia sukai.
Pentingnya Perilaku Asertif Bagi Para Siswa
Menurut Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi (2004: 98) bagi para siswa di sekolah terutama yang berumur di antara 13-18 tahun perilaku asertif sangatlah penting karena beberapa alasan sebagai berikut: pertama, perilaku asertif akan memudahkan remaja tersebut bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan lingkungan seusianya maupun di luarnya lingkungannya secara efektif. Kedua, dengan kemampuan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan dan diinginkannya secara langsung, terus terang maka para siswa bisa menghindari munculnya ketegangan dan perasaan tidak nyaman akibat menahan dan menyimpan sesuatu yang ingin diutarakannya. Ketiga, dengan memiliki perilaku asertif, maka para siswa dapat dengan mudah mencari solusi dan penyelesaian dari berbagai kesulitan atau permasalahan yang dihadapinya secara efektif, sehingga permasalahan itu tidak akan menjadi beban pikiran yang berlarut-larut. Keempat, perilaku asertif akan membantu para siswa untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, memperluas wawasannya tentang lingkungan, dan tidak mudah berhenti pada sesuatu yang tidak diketahuinya (memiliki rasa keingintahuan yang tinggi). Kelima, asertif terhadap orang lain yang bersikap atau berperilaku kurang tepat bisa membantu remaja yang bersangkutan untuk lebih memahami kekurangannya sendiri dan bersedia memperbaiki kekurangan tersebut.
Beberapa manfaat di atas lagi-lagi mengindikasikan perlunya perilaku ini ditanamkan sejak dini bagi para siswa karena perilaku asertif bukan merupakan sesuatu yang lahiriah tetapi lebih merupakan pola perilaku yang dipelajari sebagai reaksi terhadap berbagai situasi sosial yang ada di lingkungan. Perilaku asertif ini dalam kenyataannya berkembang sejalan dengan usia seseorang, sehingga penguasaan perilaku pada periode-periode awal perkembangan akan memberikan dampak yang positif bagi periode-periode selanjutnya.
Beberapa cara yang dapat ditempuh oleh guru dalam menanamkan asertivitas pada para siswa di sekolah antara lain: (1) Berikan pengertian dan pemahaman pada siswa tentang apa yang dimaksud dengan perilaku asertif, dan pentignya perilaku asertif dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan ini akan lebih baik apabila dilakukan oleh para guru bimbingan dan penyuluhan dan konseling dengan memberikan contoh-contoh perilaku yang nyata agar mudah dipahami oleh siswa. (2) Berikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk mendiskusikan materi-materi yang telah dijabarkan, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Fokuskan perhatian terutama pada mereka yang masih cenderung pasif. (3) Berikan stimulasi secara kontinyu untuk merangsang siswa agar berani menjawab ata berpendapat terutama tentang materi-materi yang diajarkan. (4) Berikan reward pada siswa yang aktif dan berusaha untuk mengemukakan pendapatnya di kelas. Reward tersebut bisa berupa pujian atau nilai tambah. (5) Berikan kesempatan secara dala menjawab soal-soal latihan, terutama untuk melatih mereka yang masih pasif. (6) Tetap menghagai pendapat siswa meskipun pendapat itu kurangtepat, dan kemudian membetulkannya dengan cara yang tidak menjatuhkan, sehingga pada kesempatan yang lain siswa tidak akan enggan untuk terus mencoba lagi. (7) Ciptakan suasana yang menyenangkan selama mengajar agar siswa tidak merasa tegang dalam mengikuti pelajaran yang diberikan (Steve simmons & John simmons Jr dalam Krisdarto Atmosoeprapt, 2004: 158).

Sikap Siswa


Pengertian sikap
Sumber di www. wikipedia.org menjelaskan sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu. Seseorang pun dapat menjadi ambivalen terhadap suatu target, yang berarti ia terus mengalami bias positif dan negatif terhadap sikap tertentu.
Sikap muncul dari berbagai bentuk penilaian. Sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu afeksi, kecenderungan perilaku, dan kognisi. Respon afektif adalah respon fisiologis yang mengekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Kecenderungan perilaku adalah indikasi verbal dari maksud seorang individu. Respon kognitif adalah pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakan sikap individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya.
Bisa terdapat kaitan antara sikap dan perilaku seseorang walaupun tergantung pada faktor lain, yang kadang bersifat irasional. Sebagai contoh, seseorang yang menganggap penting transfusi darah belum tentu mendonorkan darahnya. Hal ini masuk akal bila orang tersebut takut melihat darah, yang akan menjelaskan irasionalitas tadi.
Sikap dapat mengalami perubahan sebagai akibat dari pengalaman. Hal ini dapat dipengaruhi oleh  faktor bawaan dapat mempengaruhi sikap tapi secara tidak langsung. Sebagai contoh, bila seseorang terlahir dengan kecenderungan menjadi ekstrovert, maka sikapnya terhadap suatu jenis musik akan terpengaruhi. Sikap seseorang juga dapat berubah akibat bujukan. Hal ini bisa terlihat saat iklan atau kampanye mempengaruhi seseorang.
Sri Utami Rahayuningsih (2008) Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) adalah
1. Berorientasi kepada respon : : sikap adalah suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (Unfavourable) pada suatu objek
2. Berorientasi kepada kesiapan respon : sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon. : suatu pola perilaku, tendenasi atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri dari situasi sosial yang telah
terkondisikan.
3. Berorientasi kepada skema triadic : sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek di lingkungan sekitarnya.
Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000:11) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif  (ravorably) atau secara negatif (untavorably) terhadap obyek – obyek tertentu. D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999: 6) berpendapat bahwa sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses  motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai aspek dunia individu.
Sedangkan La Pierre (dalam Azwar, 2003:14) mendefinisikan sikap sebagai suatu pola prilaku tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. sikap juga dapat diartikan sebagai pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.
Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian tentang sikap, tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.
Menunit G.W Alport dalam (Tri Rusmi Widayatun, 1999 :218) sikap adalah kesiapan seseorang untuk bertindak. Seiring dengan pendapat G.W. Alport di atas Tri Rusmi Widayatun memberikan pengertian sikap adalah “keadaan mental dan syaraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang berkaitan dengannya.
Sedangkan Jalaluddin Rakhmat ( 1992 : 39 ) mengemukakan lima pengertian sikap, yaitu: Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok.


Strategi Pembelajaran Afektif ( nilai Sikap )

Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap

Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifatnya tersembunyi,tidak berada di dalam dunia yang empiris.Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk,indah dan tidak indah, dan lain sebagainya.Dengan demikian pendidikan nilai pada dasarnya proses penanman nilai kepada peserta didik yang diharapkan,oleh karenanya siswa dapat berperilaku sesuai dengan pandangan yang dianggapnya baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
Model Strategi Pembelajaran Sikap
Di bawah ini disajikan beberapa model strategi pembelajaran pembentukan sikap :
1. Model Konsiderasi
Model konsiderasi dikembangkan oleh MC.Paul,seorang humanis.Paulmenganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognisi yang rasional.Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual.Oleh sebab itu,model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian.Tujuannya adalah agar siswa menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Implementasi model konsiderasi guru dapat mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran
seperti berikut:
a. .menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik,yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.Ciptakan situasi”Seandainya siswa ada dalam masalah tersebut “
b. Menyuruh siswa untuk menganalisis sesuatu masalah dengan melihat bukan hanya yang tampak,tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut,misalnya perasaan,kebutuhan,dan kepentingan orang lain.
c. Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi.Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menelaah perasaannya sendiri sebelum mendengar respons orang lain untuk dibandingkan.
d. Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain serta membuat kategori dari setiap respons yang diberikan siswa.
e. Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.Dalam tahapan ini siswa diajak berpikir tentang segala kemungkinan yang akan timbul sehubungan dengan tindakannya.
f. Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
g. Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.

2.Model Pengembangan Kognitif
Model pengembangan kognisi dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg.Model ini banyak diilhami oleh pemikiran John Dewey yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur menurut urutan tertentu.Menurut Kolhberg,moral manusia itu berkembang melalui 3 tingkat ,dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap. “
a. Tingkat prakonvensional
Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri,Artinya pertimbangan moral didasarkan pada pandangan secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat,terdiri daridua tahap:
1. Orientasi hukuman dan kepatuhan
Artinya anak hanya berpikir bahwa perilaku yang benar itu adalah perilaku yang tidak akan mengakibatkan hukuman,dengan demikian setiap peraturan harus dipatuhi agar tidak menimbulkan konsekuensi negative.
2. Orientasi instrumental relative
Pada tahap ini perilaku anak didasarka pada perilaku adil,berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati.
b. Tahap Konvensional
Pada tahap konvensional meliputi 2 tahap

3. Keselarasan interpersonal
Pada tahap ini ditandai dengan perilaku yang ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.

4. System social dan kata hati
5. Pada tahap ini perilaku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya.

c. Tingkat postkonvensional
Pada tingkat ini perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku,akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki secara individu.
6. Kontra social
Pada tahap iniperilaku individu didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang diakui oleh masyarakat.
7. Prinsip etis yang universal
Pada tahap ini perilaku manusia didasarkan pada prinsip-prinsip universal.


Kesulitan dalam Pembelajaran Afektif

Pertama, selama ini proses pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual.dengan demikian keberhasilan proses pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah ditentukan oleh criteria kemampuan intelektual.

Kedua, sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.

Ketiga,keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera. Berbeda dengan keberhasilan pembentukan kognisi dan aspek ketrampilan yang hasilnya dapat diketahui setelah proses pembelajaran berakhir.

Keempat,pengaruh kemajuan teknologi,khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara,berdampak pada pembentukan karakter anak.

Prestasi Belajar Siswa


Prestasi Belajar Siswa

a.    Pengertian prestasi belajar
                             Prestasi belajar berasal dari dua suku kata, yaitu “Prestasi dan Belajar”. Secara etimologi, prestasi adalah hasil yang telah di capai/di lakukan/dikerjakan, dan sebagainya (Poerwadarminto, 1996:768).
     Secara umum, belajar merupakan proses perubahan prilaku individu, sebagai akibat dari hasil pengalaman sebagaimana pendapat M. Ngalim Purwanto (1991:84), belajar berhubungan dengan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang di sebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi tertentu.
     Dari pengalaman di atas jelaslah bahwa prestasi adalah suatu hasil yang telah di capai dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, yang di peroleh setelah siswa mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang kemudian diadakan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa. Inilah yang di sebut dengan prestasi belajar.
     Prestasi belajar adalah kecakapan nyata yang menunjukan pada aspek kecakapan yang segera dapat di demonstrasikan dan di uji pada waktu sekarang juga, karena prestasi merupakan hasil usaha dalam belajar yang bersangkutan dengan cara, buahan dan hal tertentu yang telah di alamainya. Untuk mendapatkan prestasi belajar yang lebih cukup, dalam proses pembelajaran harus ada dua subjek yang aktif, yaitu guu yang aktif menyajikan materi pelajaran sesuai dengan kurikulum dan siswa yang aktip memperhatikan pelajaran yang di berikan oleh guru.
 Gambaran kemampuan peserta didik sebagai hasil pengalamannya yang dilalui dalam proses pembelajaran di lembaga pendidikan formal, pada umumnya dinyatakan dalam bentuk angka (nilai rapot) yang sebelumnya diadakan evaluasi terlebih dahulu.
Hasil yang diperoleh peserta didik tidak semata-mata di tinjau dari hasil ulangan / test yang di lakukan secara kontinu, sehingga di peroleh suatu gambaran yang jelas tentang pembelajaran yang tingkah laku peserta didik ke arah yang positif. Dalam melaksanakan evaluasi guru sebaiknya merujuk pada pendapat Nana Sudjana (1991 : 151) bahwa yang perlu di perhatikan oleh seorang guru ketika mengadakan evaluasi akhir kegiatan pembelajaran yaitu dengan menentukan kemampuan tenaga didikdalam menjawab soal supaya diketahui tingkat penguasaan mata pelajaran dengan mengacu kepada pedoman, apabila peserta didik betul-betul memahami pelajaran, sebaliknya bila kurang dari 70%, maka harus diadakan pengulangan materi pelajaran.
b.    Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar
Prestasi belajar siswa banyak di pengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi belajar yang di capai siswa pada hakekatnya merupakian hasil interaksi dari berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu pengenalan guru terhadap faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa penting sekali, artinya dalam rangka membantu mencapai prestasi belajar yang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pretasi belajar siswa, menurut Moh Uzer Usman (1993: 9) adalah sebagai berikut:
a.         Faktor yang berasal dari dirinya sendiri (internal)
1.    Faktor jasmaniah
2.    Faktor fsikologis
a.         Fakrtor interaktif : kecerdasan dan bakat serta kecakapan nyata   atau prestasi yang dimiliki
b.        Faktor non interaktif : sikap, kebiasaan, minat kebutuhan,motivasi, emosi dan penyesuaian diri
c.Faktor kematangan fisik maupun psikis
b.Faktor yang berasal dari luar (eksternal)
1.    Faktor sosial yang terdiri atas
a.         Lingkungan keluarga
b.        Lingkungan sekolah
c.         Lingkungan masyarakat
d.        Lingkungan kelompok
2.    Faktor budaya
3.    Faktor lingkungan fisik
4.Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan



Jadi dari pendapat dan penjelasan-penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah suatu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam memperoleh sesuatu yang baru dan perubahan keseluruhan tingkah laku sebagai akibat dari latihan-latihan dan pengalaman. Prestasi belajar adalah hasil dari kemampuan yang dicapai oleh siswa sebagai hasil dari usaha.  

BELAJAR




BELAJAR
A.    Pengertian Belajar
Sepanjang sejarah perkembangannya, pengertian belajar yang diketengahkan beberapa pakar pendidikan dan psikologi ternyata sangat beragam. Keragaman ini disebabkan oleh perbedaan latar belakang dan pandangan para pakar tersebut, namun pada dasarnya sama.
Dalam prespektif keagamaan pun (dalam hal ini Islam), belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat kehidupan mereka. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur’an surat Al-Mujaadilah ayat 11 :
Artinya :
 "Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan ” (Hasbi Ash Shiddieqiy, 1999 : 910-911)

Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi belajar. Menurut Nedi dalam seminar (2004 : 2) : “ Belajar adalah proses bagi siswa dalam membangun gagasan atau pemahaman, kegiatan pembelajaran hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal itu”. Karena belajar adalah suatu proses, belajar bukan sekedar menghafal konsep yang sudah jadi, akan tetapi belajar haruslah mengalami sendiri. Mengingat belajar adalah proses bagi peserta didik dalam membangun gagasan atau pemahaman sendiri, maka kegiatan pembelajaran hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan hal itu secara lancar dan termotivasi.
Menurut Slameto (2004 : 8) : “ Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan ”. Menurut Witherington (2005 : 155) : “ Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan ”.  Sedangkan menurut Hilgard (2005 : 156) : “ Belajar adalah suatu proses dimana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi ”.
Menurut Skinner (2004 : 14),
Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang langsung secara progressif. Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar, maka responsnya menurun.

Menurut Robert M. Gagne (2004 : 17),
Belajar merupakan kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan : (1) stimulus yang berasal dari lingkungan, dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar.setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.

Menurut Chaplin dalam dictionary of psychology (1999 : 60) membatasi belajar dengan dua cara yaitu:
Rumusan pertama berbunyi: “ ... acquisition of anyrelatively permanent change in behavior as a result of practice and experience”(Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman). Rumusan kedua berbunyi adalah process of acquiring responses as result of special practice (Belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus).

Menurut Biggs dalam pendahuluan Teaching for learning : The View from Cognitive Psychology (1999 : 63) : “ Belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu rumusan kuantitatif, rumusan institusional, dan rumusan kualitatif ”.
Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah) belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa.
Secara institusional (tinjauan kelembagaan) belajar dipandang sebagai validasi (pengabsahan) terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Ukurannya ialah semakin baik mutu guru mengajar maka semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.
Adapun belajar menurut tinjauan kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada pencapaian daya pikir da tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.
Sedangkan menurut Cronbach  (2004 : 231) : “ Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami, dan dalam mengalami itu si pelajar menggunakan panca indranya ”.
Dari definisi yang dikemukakan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan hal penting dari pengertian belajar, yaitu :
1.      Belajar merupakan suatu proses menuju perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
2.      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan  atau  kematangan  tidak  dianggap sebagai hasil dari belajar seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
3.      Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik atau psikis seperti : perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, dan sikap.
4.      Belajar merupakan kegiatan yang kompleks dan hasil belajar berupa kapabilitas

Cara Merubah File PDF ke Word

5 Cara Praktis  Merubah File PDF ke Microsoft Word 1. Merubah PDF ke Word dengan Google Docs Google menyediakan layanan gratis seperti Docs ...